• MTS NEGERI 1 SINTANG
  • Sehat, Cerdas, Berprestasi

PANCA MATRA PEMBELAJAR SEJATI

Oleh: Sutardi

Kita sudah sering mendengar kutipan yang disampaikan oleh Imam Asy-Syafi'i: "Jika kamu tidak tahan terhadap letihnya belajar, maka kamu harus bersiap kelak menanggung letihnya kebodohan". Kutipan tersebut menunjukkan paling tidak dua hal, pertama bahwa proses belajar itu tidak mudah, melelahkan dan perlu energi besar. Kedua, meskipun belajar itu tidak mudah, tetapi tetap harus dilakukan dengan tekun dan terus menerus karena jika tidak maka kita akan menanggung sulitnya hidup di masa depan akibat dari kebodohan.

Agar capaian hasil belajar dapat maksimal, maka kita perlu memahami bekal-bekal yang harus dimiliki para pembelajar. Berikut ini sekelumit uraian yang mudah-mudahan dapat menjadi bekal bagi para pelajar dan kita semua yang ingin terus belajar. Pertama adalah Cerdas. Kecerdasan adalah modal awal bagi para pembelajar, dan manusia telah dibekali potensi kecerdasan ini. Jangan pernah merasa bodoh, karena Allah SWT sudah membekalkan potensi yang kita perlukan untuk belajar. Ruh, otak, panca indera, fisik yang baik bahkan telah ditumbuhkan Allah SWT sejak awal kita diciptakan  di dalam rahim. Manusia juga telah diberi kesadaran serta kemampuan abstraksi dan berkomunikasi secara lisan maupun simbolik, kemampuan analisis dan sintesis, berakal dan berpikiran. Kesemuanya itu merupakan intrumen yang disediakan untuk dikembangkan dengan belajar agar kita mampu menjalankan tugas-tugas kemanusiaan kita. Kita tinggal mengembangkan potensi tersebut agar bakat yang terpendam tidak tetap terpendam.

Kedua adalah berkemauan besar. Memiliki kecintaan pada ilmu akan memupuk kemauan dan semangat belajar. Cinta mendorong orang yang penakut menjadi berani, memfasihkan lidah orang yang gagap, membangkitkan semangat orang yang lemah, dan menjadikan mudah hal-hal yang sulit. Cinta mendatangkan kebahagiaan yang menyelimuti jiwa dan kesenangan dalam hati, menjadikan segalanya menjadi ringan dan mudah.  Belajar dengan cinta mendatangkan perasaan ringan, senang, dan bersemangat dalam menuntut ilmu. Maka kita harus mencintai aktivitas menuntut ilmu itu, atau kita buat bagaimana agar kita bisa mencitai aktivitas tersebut.

Seorang pembelajar juga perlu memiliki skill memotivasi diri dalam belajar yang berguna untuk selalu membangun keinginan ketika ketika frustasi dan malas. Motivasi belajar dapat kita tumbuhkan dengan berusaha menemukan jati diri: Kenapa saya harus belajar, Saya dikemudian hari ingin jadi apa, Pelajaran apa yang seharusnya saya pelajari untuk meraih cita-cita saya, Apakah  peran sosial yang dapat menguatkan cita-cita pendidikan saya, Sahabat, manusia, profesi orang macam apakah yang seharusnya saya jadikan sahabat sehingga dapat membantu dalam proses pendidikan saya”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membantu kita untuk memiliki tujuan hidup dan tujuan belajar yang lebih fokus, sehingga kita akan tetap memiliki motivasi dalam belajar.

Ketiga adalah sikap sabar dan belajar terus-menerus. Belajar, bekerja, ataupun aktifitas lainnya akan menghasilkan sesuatu yang dahsyat ketika dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Akan tetapi kerja jangka panjang ini umumnya akan menyebabkan kebosanan, kemonotonan dan kejemuan. Untuk itu diperlukan jiwa yang sabar dalam belajar berkesinambungan. Pembelajar yang sukses memiliki prinsip bahwa keberhasilan suatu target belajar bukan akhir segalanya, tetapi merupakan langkah awal untuk mencapai target selanjutnya.

Sabar dalam proses belajar juga berarti harus cerdas mencari metode belajar terbaik, artinya bila suatu cara belajar ternyata gagal, maka harus bersabar mencoba cara lain tanpa mengubah tujuan. Kenali apakah kita termasuk tipe orang yang belajar dengan berkata-kata, dengan pertanyaan, dengan gambar, belajar sambil bergerak, atau belajar dengan berdiam diri? Setelah kita temukan cara terbaik maka lakukan cara itu agar pelajaran mudah terinstal dalam ingatan.

Keempat adalah patuh pada guru. Dalam ilmu "otak-atik kosa kata Jawa", guru berasal dari suku kata gu yang berarti digugu (dianut) dan ru, artinya ditiru (diteladani). Pembelajar sejati menyadari sepenuhnya bahwa menyerahkan diri ke haribaan seorang guru, sama sekali tidak akan menyebabkan kehilangan jati diri. Bahkan ia akan mendapatkan keberkahan dari ilmu yang ia dapat dari Sang Guru tersebut. 

Kelima adalah biaya. Tidak dapat dipungkiri bahwa biaya pendidikan dewasa ini semakin sulit. Maka biaya menjadi syarat bagi kesuksesan belajar. Biaya belajar yang dimaksud adalah biaya belajar secara luas, bukan hanya biaya sekolah akan tetapi juga biaya mencari informasi tambahan (les, kursus dan sejenisnya) hingga biaya membeli buku-buku berkualitas.

Akhirnya, hakikat tujuan belajar bukan hanya untuk lulus sekolah, tetapi menjadikan manusia yang terang hati dan terang pikiran "good and smart", mandiri, punya kompentensi dan dapat mengembangkan diri. Lihatlah Andrie Wongso, seorang lulusan SD tetapi mampu menjadi tokoh ekonomi, wirausahawan dan motivator nasional lantaran ia mampu menggali sisi positif pada dirinya. Sebaliknya, ribuan gelar sarjana di dunia hanya diam dan tak banyak memberi kontribusi. Belajar adalah untuk menjadikan manusia cerdas, manusia yang  mampu menggali potensinya, dan mampu berfikir jauh ke depan hingga setelah kematian.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
DUH! MEDIA KITA (REFLEKSI PERINGATAN HARI ANAK NASIONAL)

Oleh : Sutardi Kehadiran media sosial telah menjadi bagian hidup masyarakat modern saat ini. Coba hitung berapa hari kita mampu tidak menonton youtube, tiktok, atau media sosial sama s

11/08/2024 15:29 - Oleh Administrator - Dilihat 67 kali
MADRASAH DI ERA PENDIDIKAN GLOBAL

Oleh: Sutardi Peran pesantren, madrasah dan lembaga pendidikan Islam telah lama diakui oleh masyarakat. Namun di saat yang sama pesantren sering pula dianggap sebagai institusi yang ba

11/08/2024 14:28 - Oleh Administrator - Dilihat 61 kali